
Melanjutkan Bab 6: Adab di Rumah
Ajarkan Anak Adab Makan
- Ingatkan saat makan sambil bersandar. Abu Juhaifah mengatakan, bahwa dia berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Rasulullah berkata kepada seseorang yang berada di dekat beliau,
- لاَ آكُلُ وَأَنَا مُتَّكِئٌ
- “Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. Bukhari no. 5399)
- Jilat jari
- عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا, فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ, حَتَّى يَلْعَقَهَا, أَوْ يُلْعِقَهَا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian makan, maka janganlah ia mengusap tangannya sebelum ia menjilatnya atau yang lain yang menjilatnya.” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 5456 dan Muslim, no. 2031] - Imam an-Nawawi berkata, saat menjelaskan maksud dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“لاَ تَدْرُوْنَ فِي أَيِّ طَعَامِكُمُ الْبَرَكَةُ.”
“Kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada.”
- عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا- قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا, فَلَا يَمْسَحْ يَدَهُ, حَتَّى يَلْعَقَهَا, أَوْ يُلْعِقَهَا». مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
- Ambil makanan yang jatuh
- Dalam Shahih Muslim dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila makan suatu makanan beliau menjilat jari-jarinya yang tiga, beliau bersabda:
إِذَا سَقَطَتْ لُقْمَةُ أَحَدِكُمْ، فَلْيُمِطْ عَنْهَا اْلأَذَى، وَلْيَأْكُلْهَا، وَلاَ يَدَعْهَا لِلشَّيْطَانِ
“Apabila makanan salah seorang dari kalian jatuh, maka bersihkanlah kotoran darinya, kotoran lalu makanlah dan janganlah membiarkannya untuk dimakan oleh syaitan!”
- Dalam Shahih Muslim dari Anas Radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bila makan suatu makanan beliau menjilat jari-jarinya yang tiga, beliau bersabda:
- Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghardik seorang yang minum dengan cara berdiri[1], namun dibolehkan minum secara berdiri berdasarkan hadits riwayat Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu menceritakan bahwa dia memberi minum kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari air zam-zam, lalu beliau meminumnya, sementara beliau tetap berdiri.
Dimakruhkan bernafas dan meniup di dalam bejana (tempat minum)
:إِذَا شَـرِبَ أَحَـدُكُمْ فَلاَ يَتَـنَفَّـسُ فِي اْلإِنَاءِ
“Apabila salah seorang di antara kalian minum maka janganlah bernafas di dalam bejana…”.
Ajarkan adab masuk kamar mandi
- Disunnahkan bagi orang yang hendak memasuki al-khalaa’ (kamar kecil/WC) agar membaca:
بِسْمِ اللهِ، اَللّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.
“Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari syaitan laki-laki dan syaitan perempuan.” - Pelafalannya “khubtsi” bukan khubutsi
Ajarkan AlQuran
Usahakan orang tua yang mengajarkan:
- Quran, minimal Al Fatihah dan hadits, jangan sampai pahala jariyah direbut
- Dzikir pagi dan petang sebagai perisai
- Doa-doa dan dzikir lainnya
Apabila kita jaga adab-adab dalam menuntut ilmu, maka mudah-mudahan Allah memberi pemahaman tentang ilmu syar’i, yang bermanfaat, mendapat keberkahan, dinaungi malaikat, ditambah hidayah taufiq oleh Allah untuk menuju ke surga-Nya.
(Menuntut Ilmu Jalan Menuju Surga Cet 11 hal. 173)
Ketika berdakwah, kita dianjurkan melakukan dengan lemah lembut, terutama kepada keluarga, kerabat, tetangga orang awam, dan masyarakat.
Syaikh Bin Baz menyebutkan, “Ini adalah zaman kelembutan”. Kita yang salah mengenalkan sunnah, dengan modal semangat tanpa tahu metodologi, malah akan memfitnah dakwah.
Rasulullah صَلَّ اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُوْنُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ ، وَلَا يُنْزَعُ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا شَانَهُ.
“Sungguh, tidaklah kelemahlembutan ada pada sesua-tu melainkan akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut dari sesuatu melainkan akan mencemarkannya.”269
268 Shahih: HR. Al-Bukhari (no. 731, 6113, 7290), Muslim (no. 781), at-Tirmidzi (no. 450), an-Nasa-i (III/198), dan ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir (no. 4892, 4896). Lafazh ini milik al-Bukhari, dari Sha-habat Zaid bin Tsabit
Seorang laki-laki pedalaman yang mendatangi Harun Al-Rasyid. Laki-laki itu berkata: “Wahai Harun, aku mempunyai suatu perkataan yang sangat keras dan kasar, maka dengarkanlah,”.
Mendengar hal itu, Harun Al-Rasyid pun menjawab: “Demi Allah, aku tidak bersedia mendengarnya. Demi Allah, aku tidak akan mendengarnya. Demi Allah, aku tidak akan mendengarnya,”. Si laki-laki pedalaman itu pun terheran-heran dan bertanya alasan penolakan Harun Al-Rasyid yang tak mau mendengar kata-kata kasar.
Lalu, Harun menjawab lagi: “Karena Allah telah mengutus orang yang lebih baik darimu (Nabi Musa) kepada orang yang lebih buruk daripadaku (Firaun),”. Kemudian Harun mengucapkan firman Allah dalam Surah Thaha ayat 44: “Faqula lahu qaulan layyinan la’allahu yatadzzakaru aw yakhsya,”. Yang artinya: “Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut,”.
Rasulullah صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda,
إِنَّ اللهَ رَفِيقُ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِيْ عَلَيْهِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ.
“Sesungguhnya Allah Mahalembut dan mencintai ke-lemahlembutan. Dia memberikan kepada kelemah-lembutan apa yang tidak diberikan-Nya kepada sikap kasar.” (HR Ahmad dan Abu Dawud)
Beliau صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ juga bersabda,
إِذَا أَرَادَ اللهُ عَزَوَجَلَّ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ.
“Apabila Allah عزوجل menghendaki kebaikan pada peng-huni rumah, Dia akan memasukkan kelemahlembutan kepada mereka.” (HR Ahmad dan Al Baihaqi)
Maka jaga lisan kita terhadap siapapun. Jika memiliki karakter yang lisannya suka menyakiti, maka berubahlah. Ingat kisah wanita yang menyepelekan akhlaq, ia rajin sholat dan puasa sunnah, juga gemar bersedekah, namun tetangganya sering sakit hati karena lisan ataupun ucapannya. Kemudian Rasūlullāh shallallāhu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
لاَ خَيْرَ فِيْهَا، هِيَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
“Tidak ada kebaikan di dalam dirinya dan dia adalah penduduk neraka.”
Para sahabat lalu menyampaikan tentang wanita lain,
وَفُلاَنَةُ تُصَلِّي الْمَكْتُوْبَةَ، وَتُصْدِقُ بِأَثْوَارٍ ، وَلاَ تُؤْذِي أَحَداً؟
“Ada wanita lain yang hanya melakukan shalat fardhu (tidak menambah dengan yang sunnah) dan bersedekah dengan gandum ala kadarnya, namun ia tidak mengganggu tetangganya.”
Beliau shallallahu alaihi wassalam bersabda,
هِيَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ
“Dia adalah dari penduduk surga” [Silsilah Shohihah 190]
Berubahlah agar dicintai oleh Allah yang Maha Lembut sebagaimana sifatnya yang terdapat dalam surat Asy-Syura Ayat 19
ٱللَّهُ لَطِيفٌۢ بِعِبَادِهِۦ يَرْزُقُ مَن يَشَآءُ ۖ وَهُوَ ٱلْقَوِىُّ ٱلْعَزِيزُ
Artinya: Allah Maha lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada yang di kehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
Jangan pula menjadi orang yang egois dan tidak mau kalah. Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ
“Orang yang paling dibenci oleh Allah adalah orang yang paling keras (tukang debat) dalam permusuhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
BAB 7 : PENUNTUT ILMU DAN WAKTU LUANG
Surat al-‘Ashr, Allah bersumpah dalam surat Al Ashr
وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashr: 1-3).
Orang-orang yang tidak merugi adalah yang:
- Beriman
- Beramal salih
- Saling menasihati
- Bersabar agar tetap istiqamah dalam ujian. Saat ada yang tidak menerima nasihat, tetap bersabar karena
Imam Syafii mengucapkan bahwa jika manusia benar-benar mentadaburi surat Al Ashr maka cukup bagi dia.
WAKTU KITA ADALAH KEHIDUPAN KITA
Seorang penuntut ilmu tidak layak menyia-nyiakan waktu luangnya untuk bercanda, bergurau, bermain-main, dan melakukan hal-hal yang tidak bermanfaat karena ia tidak akan pernah bisa mengganti waktunya yang telah berlalu. Siapa yang lalai terhadap waktunya, semakin besarlah kerugiannya, sebagaimana orang yang sakit merasa rugi kehilangan kesehatan dan kekuatannya.
Syaikh Ali Thantawi dalam kitab beliau “Dzikrayaat” mengisahkan tentang seorang ulama besar bernama Jamaludin Al-Qasimi.
Suatu ketika beliau ini melewati sekumpulan anak muda yang suka foya-foya dan menghabiskan waktu mereka dalam maksiat. Melihat keadaan seperti itu, Syaikh Jamaludin Al-Qasimi lantas berkata,
لَوْ كَانَ الزَّمَنُ يُبَاعُ وَيُشْتَرَى، لَاشْتَرَيْتُ زَمَنَهُمْ حَقًّا
“Andai saja waktu itu bisa dijual dan dibeli, sungguh akan kubeli waktu mereka..”
Saking merasa sayangnya terhadap waktu yang pergi sia-sia; tanpa faedah, dan karena saking sibuknya beliau dalam mengajarkan ilmu dan menulis buku.

Halaman 145
Andaman bagi orang yang tidak mau hijrah padahal mampu disebutkan dalam Surat An-Nisa Ayat 97
إِنَّ ٱلَّذِينَ تَوَفَّىٰهُمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ ظَالِمِىٓ أَنفُسِهِمْ قَالُوا۟ فِيمَ كُنتُمْ ۖ قَالُوا۟ كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِى ٱلْأَرْضِ ۚ قَالُوٓا۟ أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةً فَتُهَاجِرُوا۟ فِيهَا ۚ فَأُو۟لَٰٓئِكَ مَأْوَىٰهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. Para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,
Ketika orang m
elakukan itu, dianggap melakukan maksiat, dosa besar, meski pelakunya tidak dianggap keluar dari Islam.
Dalam Surat An-Nisa Ayat 98 disebutkan udzur, siapa saja yang dianggap tidak bisa hijrah;
- Tidak memiliki kemampuan
- Tidak tahu jalan
إِلَّا ٱلْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ ٱلرِّجَالِ وَٱلنِّسَآءِ وَٱلْوِلْدَٰنِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا
Arab-Latin: Illal-mustaḍ’afīna minar-rijāli wan-nisā`i wal-wildāni lā yastaṭī’ụna ḥīlataw wa lā yahtadụna sabīlā
Artinya: Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),
Abdullah bin Uraiqith adalah penunjuk jalan bagi Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq saat berhijrah dari Makkah ke Madinah.
Surat Al-‘Ankabut Ayat 56
يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ أَرْضِى وَٰسِعَةٌ فَإِيَّٰىَ فَٱعْبُدُونِ
Arab-Latin: Yā ‘ibādiyallażīna āmanū inna arḍī wāsi’atun fa iyyāya fa’budụn
Artinya: Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, sesungguhnya bumi-Ku luas, maka sembahlah Aku saja.
Imam Al-Baghawi Rahimahullah berkata : “Ayat ini turun kepada orang-orang Islam yang tinggal di Makkah dan tidak ikut berhijrah. Allah menyeru mereka dengan sebutan ‘beriman‘”
Dalil atas wajibnya hijrah dari As-Sunnah adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam[HR Abu Daud]:
لا تَنْقَطِعَ التَّوْبَةُ وَلا تَنْقَطِعُ التَّوْبَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشمس من مغربها
“Hijrah tidak terhenti sebelum terputusnya taubat dan taubat tidak terputus hingga matahari terbit dari barat”
